PALU, SULAWESI TENGAH —Suasana khidmat dan penuh keharuan menyelimuti Dhammasala — ruang ibadah utama — Vihara Karuna Dipa, Jalan Sungai Lariang, Kelurahan Nunu, Kecamatan Tatanga, Kota Palu, pada Minggu malam, 12 April 2026. Ratusan umat Buddha dari berbagai penjuru Sulawesi, Maluku, dan Papua hadir menyaksikan upacara pengecoran bagian keempat Rupang Buddha Nusantara — sebuah prosesi spiritual sekaligus karya seni budaya yang menjadi penanda 50 tahun Sangha Theravada Indonesia (STI), organisasi kumpulan para bhikkhu yang berdiri sejak 1976.
Prosesi diawali pukul 15.00 WITA dengan persembahan niat tulus dari umat berupa logam yang menjadi bahan dasar pengecoran rupang. Satu per satu umat menyerahkan logam persembahan mereka dengan penuh penghayatan sebagai wujud kedermawanan dan pelepasan kemelekatan.
Sebelum upacara inti dimulai, suasana Dhammasala semakin semarak dengan persembahan seni budaya yang memukau. Siswa-siswi SD Karuna Dipa membawakan Tari Mokambu, tarian tradisional Sulawesi Tengah yang anggun dan penuh makna. Disusul Tari Pontanu yang dibawakan Sanggar Seni Maradhika dengan gemulai dan berwibawa. Para penampil, baik putra maupun putri, mengenakan busana tradisional daerah Sulawesi Tengah lengkap dengan aksesori khas yang mempertegas identitas lokal dalam balutan nilai-nilai spiritual — sebuah perpaduan yang merefleksikan semangat Nusantara dalam satu panggung.
Rangkaian seni budaya ditutup dengan lantunan lagu Borobudur yang mengalun syahdu, membawa suasana semakin hening dan khusyuk. Tepat pukul 16.00 WITA, upacara inti dibuka secara resmi. Para bhikkhu memasuki Dhammasala dengan langkah tenang dan penuh wibawa, disambut penghormatan bersujud oleh seluruh umat yang hadir. Sebanyak 41 bhikkhu dari berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera hingga Papua, duduk berjajar dalam formasi yang tertib dan agung.
Penyalaan lilin dan dupa menandai dimulainya suasana sakral. Lilin yang menyala melambangkan kebijaksanaan yang mengusir kegelapan batin, sementara asap dupa yang harum melambangkan moralitas yang baik yang menebarkan keharuman ke segala penjuru. Lantunan pujian penghormatan kepada Buddha, Dhamma, dan Sangha — tiga permata utama dalam ajaran Buddha — bergema khidmat memenuhi ruangan, dilantunkan bersama-sama oleh seluruh bhikkhu dan umat yang hadir.
Prosesi dilanjutkan dengan pembacaan tekad bersama untuk melatih lima aturan moral, serta pembacaan perlindungan yang dilantunkan dalam irama yang menenangkan batin. Puncak kehidmatan ibadah hadir dalam sesi pemaparan ajaran Dhamma yang berlangsung selama 45 menit, dipimpin oleh Yang Mulia Dhammasubho Mahathera. Dengan gaya bahasa yang kaya, jenaka namun sarat makna, Dhammasubho Mahathera menyampaikan perenungan bijak yang menggetarkan hati hadirin.
Beliau mengawali dengan doa universal: "Makhluk apa pun yang berkumpul di sini, yang datang dari 10 penjuru dunia, yang berasal dari air, dari darat, dari puncak gunung, semoga semuanya turut mendapatkan kebajikan dan kebahagiaan."
Dalam nasihatnya, Dhammasubho Mahathera menyampaikan pesan-pesan luhur yang relevan dengan kehidupan berbangsa. "Jaga baik-baik kekayaan alam. Gunakan dengan hati-hati warisan harta bumi. Jangan menipu, jangan menghina, jangan karena marah dan benci mengharap orang lain celaka, karena itu semua hanya akan menjadi sebab-sebab bencana," ujarnya.
Beliau juga berpesan kepada penguasa: "Kalau engkau menjadi penguasa, jangan merusak negara, jangan merusak alam semesta, jangan merusak agama, karena itu semua hanya akan menjadi sebab-sebab kehancuran bersama-sama."
Dhammasubho Mahathera kemudian membawakan doa harapan yang menyentuh: "Semoga hujan turun tepat pada musimnya. Semoga pemerintah berlaku lurus. Semoga para pejabat, para birokrat, para aparat mau bertirakat. Semoga para penjahat segera bertobat. Semoga para pemuda-pemudi tidak kehilangan kemoralan. Semoga aneka bencana yang melanda bangsa segera berakhir."
Beliau juga memaparkan filosofi mendalam tentang makna rupang Buddha sebagai karya seni peradaban. "Sang Buddha mengajarkan Dhamma menggunakan tiga bahasa: bahasa lisan, bahasa tubuh, dan bahasa simbol. Rupang Buddha adalah simbol yang memastikan bahwa Siddharta Buddha Gautama pernah ada di bumi — berbicara data dan fakta, bukan janji tanpa bukti," tegasnya.
Menutup pemaparan Dhamma, beliau mengibaratkan hidup sebagai seni mengukir: "Mengukir di atas air tidak ada bekasnya. Mengukir di atas pasir hilang diterjang ombak. Tapi mengukir di atas batu, di atas logam, hasilnya akan lebih lama dari waktu membuatnya. Marilah kita berkarya Dhamma, berkarya tanpa henti."
Setelah persembahan dana kepada Bhikkhu Sangha dan pemercikan air berkah — air suci yang dalam tradisi Buddha melambangkan batin yang jernih dan menyejukkan — acara memasuki sesi laporan dan sambutan.
Yang Mulia Candakaro Mahathera selaku Ketua Panitia Daerah menyampaikan laporan dengan penuh haru. "Momen langkah ini sangat istimewa dan bersejarah, tidak boleh disia-siakan," ujarnya. Ia mengungkapkan rasa terima kasih yang tulus kepada seluruh pihak, termasuk kepada Dhammasubho Mahathera yang menurutnya telah menyampaikan pemaparan Dhamma "yang sangat inspiratif, memotivasi, sekaligus menghibur — yang tadinya ada tegang-tegang menjadi rileks."
Candakaro Mahathera juga menyebutkan bahwa acara ini dihadiri perwakilan dari seluruh 11 vihara dan cetia di Sulawesi Tengah, mulai dari Kota Palu, Toli-toli, Buol, Silondo, Morowali, Lembah Keramat, hingga Bumi Harapan. "Semoga kebajikan yang kita tanam pada hari ini menjadi sebab kebahagiaan bagi semua makhluk serta memperkokoh keyakinan kita dan menginspirasi generasi mendatang untuk terus melangkah di jalan kebenaran," pungkasnya. Ia menutup laporan dengan seruan khas: "Orang Palu punya keyakinan, sudah makan kelor pasti akan balik ke Kota Palu. Semoga demikian adanya."
Sambutan kemudian disampaikan oleh Yang Mulia Sri Subhapanno Mahathera, pemimpin tertinggi Sangha Theravada Indonesia. Beliau menyatakan kebanggaan dan kegembiraannya atas keberhasilan penyelenggaraan yang disebutnya bukan lagi acara lokal Sulawesi, melainkan acara nasional. "Keberhasilan ini karena kerja sama yang baik antara tim panitia pusat dan tim dari daerah," ujarnya.
Beliau juga menyoroti makna kesabaran yang tersirat dalam prosesi bertahap ini. "Kalau kita semakin mencintai Dhamma, mencintai kebajikan-kebajikan, maka Dhamma pun akan mencintai kita. Kita akan dilindungi oleh Dhamma," tegasnya.
Sri Subhapanno Mahathera juga menyampaikan apresiasi khusus kepada Dirjen Bimas Buddha yang hadir untuk kedua kalinya dalam rangkaian pengecoran ini, setelah sebelumnya hadir di Medan.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama RI, Drs. Supriyadi, M.Pd., dalam sambutannya menyatakan rasa bahagia, bangga, dan terharu menyaksikan umat Sulawesi yang tahan mengikuti prosesi panjang hingga empat jam. "Ini sebuah semangat bagi kita semua untuk mengambil nilai dari apa yang telah ditorehkan dalam perjuangan membabarkan Dhamma di Pulau Sulawesi," ujarnya.
Supriyadi menekankan pesan kesabaran sebagai inti dari rangkaian pengecoran bertahap ini. "Sabar itu hari ini sangat langka dan sangat mahal. Pimpinan STI memikirkan yang berbeda — memberi kesempatan kepada para umat untuk berlatih sabar," katanya. Ia juga mengajak seluruh umat Buddha untuk memperkuat ketahanan keluarga sebagai fondasi utama, dan mensosialisasikan program pendalaman Dhamma selama sebulan penuh yang akan segera dicanangkan. "Jangan sampai kita mudah diceraiberaikan karena perbedaan cara atau perbedaan tradisi. Semua itu bukan menjadi pembeda — semua itulah keluarga kita bersama," tegasnya.
Keharmonisan antarumat beragama turut menjadi warna istimewa dalam prosesi malam itu, yang ditandai dengan kehadiran FKUB terdiri dari perwakilan dari masing-masing agama, turut hadir dalam prosesi pengecoran. Kehadiran mereka menjadi simbol nyata toleransi dan kerukunan antarumat beragama di Kota Palu, membuktikan bahwa kegiatan keagamaan Buddha ini disambut hangat oleh seluruh elemen masyarakat lintas iman.
Klimaks acara tiba pukul 18.34 WITA. Dipimpin oleh Yang Mulia Dhammasubho Mahathera, didampingi seluruh Bhikkhu Sangha, Dirjen Bimas Buddha, pejabat Bimbingan Masyarakat Buddha, Ketua FKUB beserta perwakilan lintas agama, prosesi pengecoran Rupang Buddha dilaksanakan dengan penuh keagungan di halaman vihara. Seniman Sugito Sutarmin dari Amertha Art Studio menuangkan logam cair hasil persembahan umat ke dalam cetakan dengan penuh rasa hormat, menyempurnakan bagian keempat dari rupang setinggi 5 meter yang kelak akan menjadi simbol persatuan umat Buddha Nusantara. Umat yang menyaksikan dari dalam Dhammasala diminta untuk tetap bersikap anjali — bersikap hormat dengan kedua tangan di depan dada — selama prosesi berlangsung.
Setelah sesi foto bersama di area pengecoran, para bhikkhu kembali memasuki Dhammasala untuk mengakhiri seluruh rangkaian upacara dengan pembacaan penghormatan penutup. Umat menyambut kepulangan para bhikkhu dengan bersimpuh dan bersikap anjali dalam keheningan yang penuh rasa syukur. Pembawa acara menutup seluruh rangkaian dengan pengumuman penting: Rupang Buddha Nusantara yang telah selesai akan ditampilkan pada puncak acara Tahun Kencana Setengah Abad Sangha Theravada Indonesia di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD pada Minggu, 13 Desember 2026. Sementara pengecoran bagian kelima akan digelar di Vihara Dhamma Jaya, Surabaya, Jawa Timur, pada 17 Mei 2026.
Seluruh rangkaian prosesi yang sarat makna spiritual, budaya, dan kebangsaan itu tuntas dalam suasana damai dan penuh berkah, meninggalkan kesan mendalam bagi setiap jiwa yang hadir malam itu di Vihara Karuna Dipa, Palu
Editor: Rif. (Sumber: Run Down Acara, Akun You TubMedkom Sangha Theravada Indonesia Official ; Liputan langsung)_
